Sabar, Ikhlas, dan Tahu Diri..

29 10 2008

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…..
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api…
yang menjadikannya abu……
aku ingin mencintaimu dengan sederhana….
seperti isyarat yang tak sempat dikirim awan kepada hujan……
yang menjadikannya tiada……

Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ku menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali diriku sendiri. Sekarang aku tidak akan membohongi diri ku lagi.

Mungkin mencintai bukanlah bagaimana ku melupakan,

melainkan bagaimana ku memaafkan.

Bukanlah bagaimana ku mendengarkan,

melainkan bagaimana ku mengerti.

Bukanlah apa yang ku lihat,

melainkan apa yang ku rasa.

Bukanlah bagaimana ku melepaskan,

melainkan bagaimana ku bertahan.

Lebih menyakitkan menangis dalam hati

dari pada menangis tersedu atau mengadu,

air mata yang keluar dapat dihapus,

sementara air mata yang tersembunyi

menggoreskan luka dihati

yang tidak akan pernah hilang.

Sayang dalam urusan hati, sangat jarang yang peduli,

tapi ketika hati itu tulus,

meskipun kau acuhkan, hati tetap mulia,

dan ku masih punya setitik bahagia, karena hatiku

dapat menyayangi seseorang yang benar-benar ku sayangi,

lebih dari ku menyayangi diriku sendiri.

Mungkin cinta yang sebenarnya

adalah ketika ku menitikkan air mata

dan masih peduli terhadapnya,

Adalah ketika dia tidak mempedulikanku,

dan ku masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

dan ku masih bisa tersenyum

dan berkata ‘aku turut berbahagia untukmu’.

Namun ku tahu itu semua tidak mudah,

hanya sabar, ikhlas, dan tahu diri lah yang membuatnya jadi nyata.

Sabar menghadapi dan menjalani semua ini,

ikhlas menerima kenyataan ini,

dan tahu diri bahwa ia tidak menginginkan ku seperti aku menginginkannya,

ia tidak membutuhkanku seperti aku membutuhkannya,

dan ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya..





Matahari ku..

29 10 2008

Aku terus berusaha, untuk menerima bahwa aku tak akan bisa menarik matahari kembali ke timur. Sedalam apapun rasa yang ku punya aku tak akan sanggup.

Sekarang galap malam telah menyelimutiku dengan segala kengeriannya. Senja merupakan titik waktu dimana aku harus berpisah dengan hangatnya matahari, dan cerah sinarnya yang selalu menerangi jalanku. Dingin dan sepi menikam batin, walau DIA tidak akan pernah mengerti saat batin ini memanggil namanya, perih sekali.

Aku tahu teorinya sangat mudah untuk diuraikan dengan logika, namun sesuatu yang kuat menahan ku untuk tetap mengikuti jerit hati. Ada sesuatu dalam hidup ini yang tak bisa dikontrol oleh logika.

Semua orang akan tertawa melihat ku sekarang, tertawa akan kebodohanku, ketidakdewasaanku, entah apa lagi yang mereka tertawakan. Tidak ada yang mengerti akan semua ini, seperti aku tidak mengerti mereka. Lucu sekali, bahkan aku sendiri tidak kunjung mengerti akan diriku sendiri. Biarlah sekarang aku belajar dalam gelapku.

Aku tahu matahari itu tetap saja tak akan bisa ku tarik kembali ke timur. Namun ku kan menunggunya hingga ia kembali dengan sendirinya meskipun hangatnya kini mungkin telah menaungi hati yang lain, dan cahayanya menerangi insan lain. Aku akan terus menunggunya hingga batin ini kering oleh pekatnya malam, atau hingga hati ini menyatu kembali dengan tanah. Atau mungkin bahkan selamanya ku tak kan punya kesempatan untuk merasakan kembali damai dan sejuknya batin ini saat dia di sampingku. Ku pasrahkan semuanya padaMu Ya Allah..

Aku sadar di atas sana banyak sekali bintang-bintang bertaburan, namun yang ku tahu matahari itu hanya satu-satunya di jagat ini. Dan hanya dia yang mampu memberikan kedamaian batin, semangat, dan kebahagiaan hingga kini.

Terkadang Tuhan sembunyikan matahari, dan Dia datangkan gelap beserta petir dan kilat. Ku menangis dan tertanya-tanya ke mana hilangnya matahari, namun rupanya Tuhan hendak
memberi ku pelangi disaat matahari itu kembali
“. Kalimat itulah yang membantuku untuk kuat. Ya, ku harus kuat meski dalam gelap. Ku harus sabar menghadapi semua ini, dan ku harus ikhlas menerimanya..





Berpisah Dengan Angan

29 10 2008

Asa yang selalu tersuruk dalam kebisuan angan tak pernah bisa ku lepas dengan mudah. Perpisahan dengan angan menjadi saat paling hancur, sebab tak akan pernah memberikan ketentraman, kecuali sayatan kepedihan untuk selama-lamanya. Hanyalah asa yang bisa ku nikmati dengan seluruh indra dan jiwa sambil menunggu jemputan angan. Angan, selalu berpikir begitu, adalah batas yang tak pernah bisa ku dipahami.

Warna emasnya memantul damai di atas riak bening cermin jiwa, menyepuh batu cadas di lereng hati, menyirami hari-hari dengan cahaya gemilang merah kekuning-kuningan, lalu berangsur-angsur menghitam. Hitam itu berubah gelap, dan gelap menjelma kelam. Benarkah asa selalu diakhiri dengan hitam, gelap, dan kelam? Dan angan yang ditunggu sepanjang siang selalu tak berdaya menembus kerudung malam yang meluruh begitu saja, pelan namun pasti. Pada detik terakhir perpisahan dengan angan akan selalu meneteskan air mata.

“Mengapa aku mencintainya lebih dari yang aku punya? Bukankah mencintai begitu dalam seperti ini justru bisa membunuh diriku sendiri?”

Sering ku berbicara dengan diriku sendiri, di manakah sebenarnya batas-batas mencintai seseorang? Disaat mencintai dengan seluruh perasaan, hati dan pikiran, namun mengapa tak bisa digenggam dengan utuh. Cinta itu lepas belaka seperti lepasnya angin yang bahkan tidak pernah terasakan.

Asa memang selalu menyimpan rahasia dan tak pernah dapat dipahami seluruhnya sebab angan dengan warnanya yang hitam kelam selalu lebih cepat perginya dari yang diinginkan.

Terkadang ingin membenci angan. Angan telah benar-benar mengantarkan ke dalam jurang nestapa. Angan telah menyebabkan tak bisa membedakan antara kesendirian dan kesunyian, cinta dan kehilangan, kesedihan dan tangis, air mata dan kepedihan, hitam dan putih kehidupan. Semuanya datang dan pergi pada saat yang sama, yakni ketika selubung angan membunuh kemilau asa, dan asa hanya menjadi batas perpisahan yang teramat sangat memilukan.

Kegelapan angan memang tidak mau mengerti rasa, hati, dan diri. Tidak mau mengerti dan tidak bisa dimengerti. Rasanya gelap itu bakal mencungkil dengan pedih dan perih.. menggigilkan batin. Adakah KAU merasakan dalamnya ini semua?

Malam terasa bergerak lamban. Bayangan-bayangan berkelebat dalam pikiran dan semakin mendesak-desak. Suara burung hantu dari seberang kamar pekat meyakinkan betapa malam adalah selubung misteri yang menggelisahkan.

“Aku sangat tak pantas mencemburui burung hantu itu yang selalu wajahnya lebih berseri-seri dengan malamnya, terbalut oleh merahnya darah setelah membunuh mangsanya di bawah pantulan rembulan berwarna keperakan”.

Berusaha memejamkan mata, namun tak pernah bisa terlelap. Ingin bisa seperti burung hantu, menyongsong malam dengan seluruh kegairahan hanya karena akan bertemu dengan Dewi malam untuk menumpahkan kerinduannya.

Tapi tersadar pada sisi yang lain bahwa burung hantu pun juga senasib denganku. Ketika pagi hari datang dengan cahaya keemasan menyingsing dari arah fajar, burung hantu itu pasti merasakan hal yang sama. Dengan sayapnya yang lunglai dan mata yang kehilangan ketajamannya ia harus pulang untuk menunggu kembali datangnya malam dan sang bulan, sambil menyumpahi matahari.

Jadi dengan semua alasan ini, sekarang ku memang tak senang atas kehadiran gelap malam seperti halnya burung hantu membenci terang siang. Gelap selalu merampas keindahan angan yang tak pernah berhenti dikagumi dan dicintai sepanjang hari dengan sedalam cinta yang ku punya. Tapi angan barangkali tidak sekadar gelap dan kelam. Ada rahasia yang tak pernah mampu ku pahami. Seperti burung hantu yang tak tahu apa yang akan terjadi esok malam, seperti aku yang tak tahu apa yang akan terjadi esok hari, seperti dulu sebelum aku benar-benar mencintainya kini. Adilkah semua ini??

Tahukah KAU…apa lagi yang kucari dalam hidup ini, jika kini ku telah menemukan sesuatu yang dapat memberikan batinku rasa damai, rasa tenang, dan bahagia??Motivasi dan dorongan semangat yang KAU berikan bagai tarikan nafas yang terus menerus menderu dada! Mungkin dengan ini semua ku telah belajar satu hal, bahwa aku harus bisa memberikan apa yang KAU inginkan, bukan memberikan apa yang ingin aku berikan. Maaf jika selama ini ku tak bisa memberikan rasa seperti rasa yang telah KAU hadirkan padaku..Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kecintaan-Mu, kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu dan amal yang menyampaikanku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku terhadap diriku, keluargaku…dan dia..amin.





Uli..Omotteta Yo Nande Darou

29 10 2008

Uli..nigitteta te ga hanaretara..wa naita. Nanka tarinai kimi ga mou inai, michi naru sekai no yume kara mozamete. Toboketa yume no kanashige na zangai. Hontou wa kimi shika inai. Tsutaetai no ni umai kotoba miataranai, mo ienai yo “Ikanai de”. Anata e to idaku kono kanjou mo, ima kotoba ni kawatteku.

Kanashimi wa mada oboerarezu, setsunasa wa ima tsukami hajimeta. Kimi wa itsuka wasurechau no watashi no koto? Namida no kouka wa dore kurai?





Saat-Saat Dalam Hidup

29 10 2008

Ada saat-saat dalam hidup dimana kita merindukan seseorang begitu dalam, sehingga kita ingin sekali mengambilnya dari angan-angan, lalu memeluknya erat-erat. Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka, namun terkadang kita tidak bisa meninggalkan pintu itu karena hati kita tetap memilihnya. Memaksakan pindah ke pintu lainnya hanya akan menyakiti diri sendiri dan orang lain. Jangan percaya penglihatan karena penglihatan dapat menipu. Jangan percaya kekayaan karena kekayaan dapat sirna. Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum, sebab hanya senyumlah yang dapat merubah gelap menjadi terang. Jagalah hatimu untuk dia…dia yang membuat hatimu tergetar.

Angankan apa yang ingin kita angankan, pergilah kemana kita ingin pergi. Jadilah seperti yang kita kehendaki, sebab hidup hanya sekali dan kita hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang ingin kita lakukan. Semoga kita punya cukup kebahagiaan untuk membuat kita tetap tersenyum, cukup pencobaan untuk membuat kita kuat, cukup penderitaan untuk tetap menjadikan kita manusiawi, cukup kepedihan untuk membuat kita tetap berhati, cukup pengalaman untuk membuat kita belajar, dan cukup pengharapan untuk membuat kita tetap bisa bermimpi.

Untuk berbahagia tidaklah harus selalu memiliki yang terbaik dari segala sesuatu. Namun bagaimana kita mensyukuri dan mengoptimalkan segala sesuatu yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Masa depan yang gemilang akan dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu. Kita tidak akan dapat maju dalam hidup hingga kita melepaskan segala kegagalan dan rasa sakit hati kita..





Reverie..

29 10 2008

Angan-angan??

Ku memasuki kamar kosong disepotong senja kelabu yang bergerimis. Hm..ku letakkan kedua tangan ku di belakang kepala. Indahkah dunia hari ini??

Angan-angan??

Aku melihat seorang lelaki duduk di kursi paling sudut dekat jendela kaca. Ia memandang rinai-rinai gerimis seakan-akan menghitung jarum-jarum air yang turun satu persatu itu dengan tatapan kosong. Wajahnya tegas tapi muram, bahasa tubuhnya jelek sekali. Ia menggigit giginya dengan keras, jemarinya mengetuk-ngetuk.

Angan-angan??

Ku berjalan menuju lelaki itu.

“Kenapa kau di sini?”, tanyaku pada lelaki itu.

Ia menoleh. Tersenyum. Tapi tetap saja muram. “Menunggumu. Kapankah kau akan menjemputku?”, jawabnya gamang.

“Sudah lama?”

“Lama sekali. Bahkan hampir putus asa menunggumu.”

“Lalu kenapa terus menunggu?”

“Karena aku yakin kau pasti akan datang. Ada yang menjanjikan bahwa kau akan menjemputku. Ada yang menjanjikan bahwa kau tidak akan meninggalkanku.”

“Kenapa kau lakukan itu? Aku sudah dimiliki orang lain”, kataku sambil menatapnya dalam.

Ia mengangkat bahu. “Kalau aku jawab aku cinta padamu…mungkin akan terdengar sangat klise. Kamu pasti sudah terlalu banyak menulis untuk sebuah kata cinta. Kalau aku jawab aku percaya padamu, mungkin akan terdengar sangat tolol. Kenapa bisa percaya kepada seseorang yang telah dimiliki orang lain. Lalu menurutmu, aku harus menjawab apa??”, sergahnya balik bertanya.

“Jawab saja sesuai kata hatimu. Bukankah suara hati adalah suara yang paling jujur.”

“Hhh…”, ia berdesah agak panjang sambil menghirup udara dingin. Ingin sekali menangis sekuat-kuatnya hanya sekedar untuk meringankan hati, sekedar bernafas lega. “Karena ngeri sekali rasanya harus hidup tanpamu, harus kehilangan dirimu!” tegas jawabnya menyentuh batinku.

“Kenapa aku??”

“Karena kau memberikan rasa nyaman”, jawabnya cepat.

“Karena kau hidupku jadi berarti, jadi punya arah, tujuan kemana aku harus melangkah!” Pecah tangisnya memenuhi seluruh penjuru ruang. Kamar kosong tadi tak jadi kosong lagi. Deru tangis menyebar cepat ke langit-langit, memenuhi gelas separoh kosong kemudian mengkristal di badan gelas.

“Semangatku bangkit jika ku mengingatmu. Senyumku melebar saat ku makin dekat dengan pelukmu.”

“Apa kau merasa nyaman saat menungguku sekian lama??”

“Tidak.”

“Lalu?”

Ia menikam manik mataku dengan tatapannya yang murung. “Tahukah kau kalau rindu itu adalah luka yang paling nikmat??”

“Ah..sejak kapan kau berubah menjadi puitis?”

“Sejak aku mengenalmu..”

Angan-angan??

Aku menariknya dalam pelukanku, masih di dalam angan-angan.

Aku tengadah melihat pantulan diriku di cermin.

Astaga!!!

Aku separuh dia, dia separuh aku.

Aku separuh menangis, separuh terbahak.

Aku separuh muram, separuh ceria.

Aku separuh berduka, separuh bersuka.

Berangan-angankah aku??





Spend All The Time

29 10 2008

Spend all the time for waiting, for other change or a break that would make it okay. There’s always the reason to feel not good enough, and it’s always hard to face the end of the day eventhough I always wish find some peace tonight.

I want to lie in the arm of Allah, and fly away from here. From this dark cold empty room and the endlessness that I fear. I try to pulled me from the wreckage of my silent reverie. Maybe just in Your arm Ya Allah I find some comfort.

I may never find all the answer, or I never understand why. World is so strange for me. But I know that I still have to try, and always keep try. Just spirit that I need, not from anybody, but just from inside of me. The truly friend is just Allah and time. Allahuakbar!!!!Spirit never die!!!!And Allah will always beside me!!!Amin!!!





Ingin Ku Kembali

4 08 2008

Ingin ku kembali..

pada pena dan kertasku

pada pekatnya kamar-kamar kosong

atas secarik guratan mimpi-mimpi hidupku.

Kasih, dalam resahku..

ingin ku kembali pada buaianmu

pada indahnya barisan kata demi kata

balada pujangga dunia.

Kasih, dalam sedihku..

ingin ku kembali goreskan

rentetan lara, duka, dan cerita bahagia

yang mengambang di cermin kehidupan

dalam satu bait pena merah

untukmu, hanya untukmu..





Dimana Nuranimu??

4 08 2008

Aku tak bisa lagi mendengar

gelak tawa anak negeri

yang hilang dalam caci maki.

Dan aku tak bisa lagi memandang

tentang indahnya senyuman anak bangsa

yang tenggelam oleh lara, dusta, dan nestapa.

Sejarah dunia seakan memudar

habis kikis hilang terbang.

Tinggallah kita dengan kebuasan, dengan kebiadaban

menusuk nurani, merusak jiwa.

Wahai kekasih..inikah jalanmu?

Jalan menuju impian dan harapan?

Apa yang kau cari..kepuasan?

Hatimu telah jenuh, hatimu telah keruh!

Sadarlah wahai pujanggaku..

kau rusak, kau hancur sayang..

Bangun, dan bangunlah

rujuklah pada nuranimu

terlalu lama kau menghianatinya.

Bangkit, dan bangkitlah

bangkit dari tidur lelapmu

mentari kan slalu bersinar

menerangi jalanmu.





Di Bawah Bayang Fajar

4 08 2008

Di bawah  bayang fajar

bocah kecil bertubuh mungil

berbinar diredupnya sinar

menerjang masa depan.

Dalam serpihan niat dan harapan

ia alunkan lagu juang tanpa akhir

‘tuk menggapai semua asa yang ada.

Pada angin ia berkata,

“Kemarin aku mengantar tangisku!”

Pada daun ia berbisik,

“Hari ini aku akan menjemput impian..”

Di bawah bayang fajar

di antara titik demi titik embun pagi

disanalah ia kembali

‘tuk menjerat mimpi-mimpi.