Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…..
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api…
yang menjadikannya abu……
aku ingin mencintaimu dengan sederhana….
seperti isyarat yang tak sempat dikirim awan kepada hujan……
yang menjadikannya tiada……
Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ku menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali diriku sendiri. Sekarang aku tidak akan membohongi diri ku lagi.
Mungkin mencintai bukanlah bagaimana ku melupakan,
melainkan bagaimana ku memaafkan.
Bukanlah bagaimana ku mendengarkan,
melainkan bagaimana ku mengerti.
Bukanlah apa yang ku lihat,
melainkan apa yang ku rasa.
Bukanlah bagaimana ku melepaskan,
melainkan bagaimana ku bertahan.
Lebih menyakitkan menangis dalam hati
dari pada menangis tersedu atau mengadu,
air mata yang keluar dapat dihapus,
sementara air mata yang tersembunyi
menggoreskan luka dihati
yang tidak akan pernah hilang.
Sayang dalam urusan hati, sangat jarang yang peduli,
tapi ketika hati itu tulus,
meskipun kau acuhkan, hati tetap mulia,
dan ku masih punya setitik bahagia, karena hatiku
dapat menyayangi seseorang yang benar-benar ku sayangi,
lebih dari ku menyayangi diriku sendiri.
Mungkin cinta yang sebenarnya
adalah ketika ku menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya,
Adalah ketika dia tidak mempedulikanku,
dan ku masih menunggunya dengan setia.
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan ku masih bisa tersenyum
dan berkata ‘aku turut berbahagia untukmu’.
Namun ku tahu itu semua tidak mudah,
hanya sabar, ikhlas, dan tahu diri lah yang membuatnya jadi nyata.
Sabar menghadapi dan menjalani semua ini,
ikhlas menerima kenyataan ini,
dan tahu diri bahwa ia tidak menginginkan ku seperti aku menginginkannya,
ia tidak membutuhkanku seperti aku membutuhkannya,
dan ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya..